Rabu, 04 Januari 2012

Cara mengajar yang efektif dan menyenangkan


 Cara Mengajar Efektif, Menyenangkan dan Tegas

Mendidik dan Mengajar adalah tugas pokok dan tuntutan atas profesi yang disandang oleh seseorang yang dikenal dengan istilah Guru. Dalam menjalankan profesinya seorang guru juga harus dituntut professional artinya harus memiliki sikap kecintaan dan semangat yang terus menerus pada bidang pendidikan. Dengan kata lain selalu ada keinginan untuk membuat siswa belajar dengan senang dan mencapai keberhasilan sehingga para guru harus mampu mengembangkan kualitas akademik dan kompetensinya secara berkelanjutan.
Menjadi guru sebenarnya merupakan perjalanan spiritual, dalam konteks agama Islam kita mengenal Ihsan. Pemahaman iman dalam etos kerja (mengajar) seorang guru yang professional adalah bagaimana ihsan dalam bekerja. Ihsan mengandung makna berkualitas baik dan indah. Bekerja bukan hanya untuk duniawi saja namun juga ukhrowi, lantaran Islam menganggap keduanya sebagai satu kesatuan dan system kerja yang terintegrasi. Maka dalam hal ini, ada tiga tahapan ketika seorang muslim bekerja.
1.       Tahap Pertama, dasar fundamental seseorang bekerja adalah dengan memantapkan dirinya dengan iman atau hanya mengabdi kepada Allah semata.
2.       Tahap Kedua, melaksanakan pekerjaan dengan model Arkanul Islam, yakni: merasa bersama Allah dalam bekerja;
3.       Tahap ketiga, melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sempurna kualitas hasil dan juga motifnya lantaran merasa diawasi dan selalu bersama Allah.
Guru harus memaknai pekerjaan yang dilakukannya itu sebagai ibadah dimana kompensasi yang diperoleh bukan materi semata melainkan juga pahala dari Allah. Bermakna ibadah artinya ketika mengajar harus diniati karena Allah, merasa diawasi oleh Allah dan berharap output yang dihasilkan bermanfaat bagi kemaslahatan anak didik sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan.
Bukanlah suatu alasan guru harus meninggalkan tugas pokoknya mengajar hanya untuk ngobyek guna memenuhi tuntutan ekonomi meskipun kita sadar bahwa penghasilan yang diperoleh belum bisa sepenuhnya memenuhi tuntutan hidup yang semakin tinggi. Namun bukankah sesungguhnya mendidik dan mengajar itu merupakan proses menjalankan amanah. Amanah dari Allah bahwa kita diberi kelebihan atas ilmu yang harus disampaikan kepada orang lain/anak didik kita sesuai dengan hadits nabi sampaikanlah ilmumu walau hanya satu ayat.
Dalam kaitannya tugas guru mendidik dan mengajar maka pendekatan hati sangatlah penting. Artinya hati (qalb) menempati titik sentral dalam proses interaksi guru dan siswa sehingga membawa perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik. Hati/qalb dilihat dari bahasanya berarti bolak-balik (labil). Sesuatu yang labil membutuhkan suatu panduan yang dapat mengarahkannya pada kebaikan. Rasulullah menyebutkan dalam suatu haditsnya bahwa jika segumpal daging (hati) jelek maka jeleklah perilakunya, sebaliknya bila ia baik maka baiklah seluruh perilakunya. Di samping itu, Alquran juga memaknai hati dengan akal (QS Al hajat:46) yang mampu memahami realitas kehidupan untuk kepentingan kedekatan diri dengan Allah dan kedekatan diri dengan manusia.
Mendidik dan mengajar dengan hati berarti guru memberikan contoh yang baik bagi anak didik kita. Proses keteladanan atau memberi contoh melalui sikap dan tingkah laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sekadar mengajar di depan kelas. Semua itu berpulang pada bagaimana kita mampu mengefektifkan dan mengarahkan hati kita menjadi bersih dan suci. Karena dari hati bersih dan suci itulah akan terpancar perilaku yang bersih dan suci pula. Apa bila ini bisa diterapkan di setiap jenjang satuan pendidikan maka bullying/kekerasan di dunia pendidikan tidak akan terjadi. Dengan demikian tanggung jawab guru tidak hanya pada tataran administrasi seperti  mengerjakan BPS (Buku Perkembangan Siswa) dan overview atau bagaimana siswanya bisa lulus dari suatu jenjang pendidikan, memperoleh nilai-nilai yang mengacu pada kompeten dan belum kompeten atau menganggap Bintang Pelajar hanya sebagai Bimbel saja melainkan juga tanggung jawab moral yang pertanggung jawabannya didepan Allah. Bukankah ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya adalah pahala yang terus mengalir meskipun kita sudah mati. Pada titik inilah mudah-mudahan apa yang dicita-citakan dari pendidikan bisa terwujud. Untuk bisa mewujudkan hal itu semua, seorang guru harus memiliki beberapa keterampilan khusus dalam mengajar walaupun hanya kelas ukuran kecil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar